Melalui barang teknologi seperti pesawat televisi budaya Hollywood di Amerika Serikat, Paris di Perancis,Bangsa Eskimo di Kutub Utara Bumi sudah dengan leluasa memasuki rumah-rumah di pelosok kampung di belahan Negara mana pun di dunia. Informasi dan rangsangan pengaruh yang dibawanya seperti itu bukan lagi monopoli manusia-manusia kota. Nah, selama teknologi informasi terus berkembang, maka akan sia-sia saja segala pemikiran yang bermaksud membendung arus globalisasi. Alih-alih memubazirkan pikiran guna menghadang globalisasi, mendingan menerima mobilitas tinggi komunikasi, informasi, orang, barang, jasa seperti ini sebagai berkah dan bukan sebagai kutukan.
Lihatlah kota-kota dan segala isinya yang kian modern, semakin memukau orang-orang nonperkotaan untuk datang dan menetap di kawasan perkotaan, demi mengejar kesenangan dan pemanjaan diri. Jelas itu suatu berkah, bukan kutukan bagi manusia, tapi entah bagi makhluk lain atau alam fisik nonmakhluk. Sebab tak sedikit para pengamat lingkungan yang tergolong sangat kritis malah resah oleh perkembangan teknologi yang katanya merugikan manusia juga seraya menunjukkan fakta bahwa semakin canggih pola pikir dan alat eksploitasi di tangan manusia maka semakin tinggi laju kerusakan lingkungan alamiah, yang ditandai dengan semakin merosotnya kemampuan alam untuk memulihkan dirinya sendiri dan karenanya juga melemahnya daya dukung lingkungan terhadap kehidupan manusia dan makhluk lainnya (termasuk tumbuh-tumbuhan). Pendapat demikian mungkin tak sepenuhnya benar, akan nalar kita pun sukar menyangkalnya. Yang jelas, rutinitas yang amat modern dari orang-orang yang tinggal dalam kawasan metropolitan sekalipun sepertinya dilanda kejenuhan oleh hal-hal yang serba artifisial di tengah “habitat” mereka yang serba menggunakan perangkat high-tech. Kawasan perdesaan atau hal-hal yang serba masih relatif alamiah kini malah semakin disenangi mereka untuk wisata atau sekedar memalingkan diri sejenak dari rutinitas yang membosankan mereka di kawasan perkotaan.
Semakin tinggi kadar orisinalitas dan eksotik suatu tempat semakin mereka cari sebagai tujuan wisata mereka. Maka tidak mengherankan apabila tempat-tempat yang indah dan alamiah, terlebih yang lengkap dengan budaya klasik penduduk setempat, akan menjadi obyek wisata yang paling diminati oleh manusia-manusia modern saat ini dan di masa mendatang. Pantas saja apabila Bali, Hawaii dan New Zealand telah menjadi tempat-tempat tujuan wisata utama para pelancong kelas dunia untuk memenuhi kebutuhan emosi dan naluri artistik mereka. Tapi juga kita jangan lupa, bahwa berkat kemajuan teknologi yang semakin cepat pula faktor jarak tempuh yang harus mereka lalui untuk sampai di tempat-tempat indah dan eksotik seperti itu menjadi tidak perlu terlalu dirisaukan, karena perjalanan semakin dipercepat oleh high-technology.
(Foto di atas adalah Kawasan Tanah Lot di Bali (saat sunset pada suatu hari di bulan Desember 2006 by Herman Hermit) Terdapat Pura yang paling sering digunakan untuk ritual peribadatan masyarakat Hindu sekaligus merupakan salah satu tempat favorit wisatawan di Pulau ini. Suatu waktu pada tahun 2007, di pelataran Tanah lot ini pernah diselenggarakan pertunjukan Tari Kecak secara kolosal yang melibatkan sekitar 5.000 orang penari.)
Bali, sebuah pulau realif mungil di Indonesia, misalnya, pada tahun 2007 Bandara Internasional Ngurah Rai di Bali mencatat lima ribu hingga enam ribu wisatawan asing mendarat di Bali setiap harinya. Saya kira di dunia hanya Hawaii yang bisa menandingi skor kemasukan wisatawan asing seperti ini, untuk ukuran pulau realtif mungil sebagai tujuan wisata dunia. Untunglah Bali tidak tenggelam ke laut karenanya. Sepuluh besar negara asal wisatawan asing yang masuk ke Bali sepanjang tahun 2006, misalnya, adalah Jepang (20%), Taiwan (11%), Australia (10%), Korea Selatan (6%), Jerman (5%), Inggris (5%), Malaysia (5%), Amerika Serikat (4%), Perancis (3%), Singapura (3%) dan RRC (3%). Ketujuh bangsa tersebut memang terkenal dengan keroyalan dan seleranya yang tinggi dalam berwisata.
Kecantikan alam dan eksotisme budaya penghuni pulau ini saya kira yang menjadi pesona dan magnet yang menyedot perhatian wisatawan dunia untuk tak pernah bosan singgah di pulau ini. Pantai, gunung, bukit, lembah bahkan kawasan pertanian mereka begitu indahnya bagai panggung dengan setting demikian artistik untuk pertunjukan seni tari klasik. Budaya yang hidup dan dipraktekkan dalam keseharian begitu eksotiknya bagaikan gerakan-gerakan dalam tari-tarian klasik. Tanpa menari sekalipun mereka sepertinya sedang manari. Tanpa panggung pertunjukan sekalipun Bali sepertinya telah menjadi panggung dengan setting yang pas untuk pertunjukan tari. Apalagi mereka memang senang menari, bahkan tari telah mendarah daging dalam kehidupan mereka. Pendatang dan pelancong ke pulau ini bagai membiarkan dirinya ditarik oleh kekuatan-kekuatan yang lebih kuat dari pesona tarian mereka, demikian yang saya pikir dan saya rasakan sendiri setelah datang berkali-kali ke Bali.
(Foto di atas: Perempuan yang bukan penari ini tidak sedang menari, tapi sedang berjalan biasa sesaat setelah meninggalkan tempat melakukan upacara ritual hariannya di bagian belakang bangunan gedung Pusat Kerajinan Galuh Gianyar Bali (pada suatu pagi hari pada bulan Desember 2007 by Herman Hermit)).
Dalam kepercayaan bangsa Yunani dan Romawi kuno, konon dewa-dewi yang mereka puja amat menyukai keindahan dan gerakan-gerakan tari. Oleh karena itu dalam pemujaan mereka kepada para dewa-dewi mereka menggunakan bahasa tubuh dalam bentuk tarian yang indah. Dan rumah-rumah peribadatan dibangun dengan nilai artistik tinggi. Saya pun punya keyakinan serupa mengenai Bali, bahwa Bali tercipta saat Tuhan sedang tersenyum. Sepertinya Tuhan ingin kita kenali melalui antara lain keindahan Bali dan kehidupan masyarakatnya. Bukankah perkataan spontan “Oh, God, it’s beautiful!” adalah yang paling sering kita dengar dari para wisatawan asing di Bali? Biarlah itu menjadi keyakinan saya dan mereka yang setuju dengan saya mengenai Bali. Bagi mereka yang tidak percaya adanya Tuhan mungkin akan berpikir bahwa Bali (seperti halnya Hawaii) merupakan bagian terindah dari perbendaharaan alam semesta. Sebab buku ini tidak ditulis untuk kepentingan pihak sponsor mana pun. Saya, bukanlah satu-satunya penulis yang jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Bali. Seperti juga para pelukis, para penulis dari mancanegara cukup kerasan tinggal sementara (tak sedikit yang kemudian menetap) di Bali, biasanya mereka memilih Ubud sebagai kawasan tempat tinggalnya. Sebagaimana halnya para wisatawan dunia yang datang ke pulau ini, ketertarikan para penulis dan pelukis untuk datang atau menetap di Bali pastilah bukan suatu kebetulan, melainkan memang telah ditarik oleh kekuatan-kekuatan yang lebih kuat dari yang membuat mereka tertarik selama ini di tempat lain atau di tempat asal mereka.
Bali dan budaya masyarakatnya memang tidak statis, mereka tidak hidup dalam ruang hampa udara bernama kehidupan kuno. Mereka mengikuti perkembangan budaya universal dunia, termasuk budaya kontemporer. Namun anehnya, warna dan aroma klasik dan eksotik selalu diperlihatkan walaupun Bali sekarang cukup modern (lengkap dengan fasilitas Water Boom terbesar di Indonesia dan kapal-kapal pesiar yang lalulalang serta bertaburan hotel bintang 5 di kawasan pantainya). Pesona eksostik Bali tidak luntur hanya karena modernisme juga masuk ke Bali. Kalau modernisme boleh dipersonifikasikan, maka modernisme yang sudah berkembang di Bali seolah merupakan salah satu wisatawan asing yang kemudian tertarik untuk tinggal di Bali, dan bukan bagian dari Bali dan masyarakat asli Bali itu sendiri. Jadi, modernisme di Bali menurut saya tidak berasimilasi dengan orisinalitas Bali dan budaya masyarakat Bali. Lihatlah bagaimana mereka semakin bangga dan merasa bergengsi dengan nama-nama khas Bali seperti Ketut, Wayan, Made, dan seterusnya. Juga bagaimana mereka tetap tekun dan khidmat melakukan ritual adat Bali setiap pagi dan sore meskipun di halaman-halaman gedung-gedung perkantoran dan hotel-hotel modern. Ini yang antara lain sukar ditemukan di tempat-tempat lain di dunia. “Bali is Bali and of still Bali” demikian kata seorang Bali.
Perumpamaan lain yang tepat untuk Bali, asesoris yang menempel dan ditambahkan dengan sengaja oleh pemilik pada interior dan eksterior sedan BMW miliknya tidak bisa mengubah kesejatian atau identitas sedan BMW tersebut. Lain halnya kalau si empunya sedan tersebut memodifikasi habis-habisan sedannya itu. Tapi Bali dan masyarakatnya sepertinya tidak pernah bermaksud “memodifikasi” Bali dan dirinya. Lihatlah bagaimana gedung-gedung perkantoran modern dan hotel-hotel berbintang lima sekali pun tidak diperkenankan lebih dari dua lantai oleh masyarakat dan pemerintah daerah Bali. Pertunjukan tari-tari klasik Bali yang diselenggarakan di ruang lobi hotel-hotel mewah, misalnya, terasa bukan bersifat asesoris bagi ruang-ruang hotel, melainkan sebaliknya ruang-ruang hotel mewah itulah yang sepertinya mengkomplementer atau bersifat asesoris bagi seni pertunjukan tari orang-orang Bali. Kekuatan perasaan kita di Bali saya kira akan lebih kuat dari kekuatan pikiran kita ketika kita sedang berada di Bali, setidaknya demikian yang saya alami setelah berkali-kali datang ke Bali sebagai wisatawan.
(Foto: Penulis bersama detail-detail pelataran belakang bengunan gedung Pusat Kerajinan Galuh di Gianyar Bali yang tidak pernah bosan datang ke Bali (suatu pagi hari di bulan Desember 2007 by Tonny))
Kawasan pantai Dream Land yang terakhir dibuka dan dikembangkan dengan masterplan cukup modern di Bali, misalnya lagi, itu pun malah semakin menambah dan memperkuat orisinalitas pesona keindahan Bali, dan tidak terasa sebagai hal yang artifisial atau asesories modernisme. Malahan bagaikan ditemukannya sebuah artefak mempesona dari penggalian sebuah lost city di Yunani atau Mesir, sambil si arkeolog itu bermain asyik golf 18 lubang di kawasan bukit di atas pantai. Memang ini tidak terlepas dari sentuhan para arsitek lansekap kelas dunia dalam merancang pembangunan kawasan-kawasan baru di Bali. Dalam hal ini Bali memang telah menjadi milik masyarakat dunia. Arsitek dan konglomerat kelas dunia pun tidak akan mengalami hambatan untuk eksis di Bali, karena sepertinya Bali dan masyarakatnya begitu percaya diri bahwa mereka mampu menjadikan arsitek ataupun konglomerat lebih kuat dalam kekuatan perasaan daripada kekuatan pikirannya ketika pendatang berada di Bali. Selebihnya, adalah tangan-tangan tak nampak (The invisible hand) dari alam semesta itu sendiri yang akan menjaga perbendaharaan alamiah yang paling bernilai dan mempesona seperti pulau Bali. Coba saja pembaca datang dan rasakan sendiri di pulau ini, yang terkenal juga dengan sebutannya sebagai Pulau Dewata.
Kawasan Dream Land di Bali (suatu pagi hari pada bulan Desember 2006 by Herman Hermit)
Paduan antara keindahan alam dan bertahannya budaya ritual masyarakatnya yang sebetulnya secara rasional membuat Bali tetap dan bahkan semakin tampak eksotik sekaligus atraktif di tengah dunia yang cenderung kian sekuler dan alamnya kian mengalami degradasi lingkungan. Masyarakat Bali dengan kepercayaan religinya yang kuat memang amat tolerans dengan modernisme, akan tetapi mempunyai daya tolak atau resistensi yang kuat terhadap pembangunan yang menurut mereka akan merusak lingkungan, karena terganggunya keseimbangan alam diyakini mereka akan merusak hubungan baik mereka dengan Tuhan mereka (para dewa). Sebagai contoh, ketika pemerintah pusat akan merencanakan pembangun pusat listrik tenaga uap (PLTU) di kawasan Bedugul, masyarakat Bali dari pelbagai lapisan sekuat tenaga menentang dan menolaknya, dengan alasan akan menurunkan kualitas lingkungan kawasan bukit Bedugul yang memang merupakan daerah konservasi atau kawasan fungsi lindung dan kebetulan di bagian lembahnya terdapat danau Bedugul yang amat menawan dan berhawa sejuk itu. Budaya dan agama yang mereka anut (Hindu) memang cukup melebur menjadi suatu keyakinan yang harus mereka praktikkan dalam ciri laku kehidupan sehari-hari. Ini dimungkinkan karena agama Hindu di Bali telah berusia relatif paling tua di antara agama-agama lain yang masuk ke pulau Bali atau Indonesia pada umumnya. Akan tetapi tradisi Hindu di Bali cukup berbeda dengan tradisi Hindu di India (tempat kelahiran agama Hindu). Masyarakat Hindu Bali sangat menerima dan bahkan bersahabat dengan budaya modern yang berteknologi tinggi, namun budaya modern tersebut tidak diperkenankan merusak hubungan mereka dengan Tuhan mereka, yang mereka yakini tidak menyukai ketidakserasian dan terganggunya keseimbangan alam. Saya kira hanya ada di masyarakat Hindu Bali apabila kita saksikan banyak pohon-pohon besar bukan saja dilestarikan di kota (Denpasar, meskipun posisinya sudah berada di tengah jalan) seraya dibungkus dengan kain bermotif kotak-kotak berwarna hitam-putih (mirip motif papan catur). Itulah masyarakat Hindu di Bali.
Kawasan (desa) Bedugul yang merupakan daerah konservasi sekaligus merupakan salah satu tempat pavorit wisatawan, terdapat Danau Beratan dan pura-pura sebagai tempat peribadatan Hindu Bali di bagian lembahnya. (suatu siangi pada bulan desember 2004 by Herman Hermit)
Budaya dan sikap masyarakat Bali yang amat sadar bahwa keluarga mereka amat bergantung secara ekonomi kepada kehadiran para wisatawan, telah bukan hanya mendukung kemajuan dunia wisata di Bali, tetapi juga telah menjadikan Bali amat terkenal dengan masyarakatnya yang amat ramah kepada para wisatawan. Para wisatawan diperlakukan bagai tamu mereka. Itu sebabnya masyarakat Bali sangat memperhatikan keamanan dan kehormatan para wisatawan. Kalaulah kejadian ledakan bom yang menewaskan bahyak wisatawan pernah terjadi juga di Bali pada tahun 2000, itu dilakukan oleh orang-orang luar Bali yang memang bisa saja meledakkan bom di tempat lain manapun sesuai kehendak hatinya yang memang bejiwa binatang buas.
Keramah tamahan masyarakat Bali kepada wisatawan yang sudah membudaya atau mendarahdaging, juga tidak lantas meniadakan faktor rasional hubungan keekonomian (take and give) antara wisatawan dan mereka penyedia jasa kepariwisataan sebagaimana halnya umum terjadi di tempat-tempat lain. Wisatawan yang bisa memberi fee yang bagus kepada para penyedia jasa wisata, mereka akan menerima kualitas jasa yang plus. Sejak penginapan murah hingga hotel mewah yang tentunya amat mahal tersedia di Bali, demikian pula dengan makanan dan minuman. Tidak hanya wisatawan berdompet tebal yang bisa menikmati kecantikan yang orisinal dan eksotisme Bali dan budaya masyarakatnya, tapi juga turis dengan isi dompet yang pas-pasan bisa sama-sama menikmati pesona luar biasa sunset di Pantai Sanur pada pagi hari dan sunrise yang menakjubkan di Pantai Kuta, sambil menikmati hangatnya kopi Star Bucks ataupun air kopi curah dari termos yang dibawa sendiri sang wisatawan.


Pantai Kuta Bali
(Foto: Pantai Kuta untuk menikmati sunset dan surfing)
Bahkan di panggung teater terbuka di BCC (Bali Culture Center) siapapun bisa menikamti pertunjukan tari klasik Bali dengan nyaman secara gratis, asalkan datang sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan pengelola kawasan. Bahkan saya paling suka turut menari sekenanya naik pentas bersama mereka bila saatnya tiba yang memang selalu ada waktu di mana panitia mempersilakan para wisatawan yang berkenan ikut menari dengan suka ria di tengah para penari asli. Coba rasakan suasana magis dan suka cita akan merasuk hingga ke sumsum tulang belakang kita ketika Anda mencoba ikut menari dengan mereka seperti kesukaan saya itu. Sebetulnya sebuah buku tebal pun rasanya belum cukup untuk melukiskan pengalaman artistik saya dalam menikmati pertunjukan-pertunjukan tari Bali dan perasaan yang menjalar ketika berpartisipasi menari dengan mereka.
No comments:
Post a Comment